Breaking News
15:03

Omicron di Indonesia: Kasus varian baru bertambah menjadi 254 orang, didominasi dari luar negeri

Xl7epj0rfexyr7e3ccku
Sejumlah warga di sekitar Rumah Sakit Mount Sinai di Manhattan, New York City, Amerika Serikat, memberikan dukungan terhadap petugas medis, Senin (13/4) Foto: Reuters/Mike Segar
Bagikan
Lihat Tersimpan

Kementerian Kesehatan mengumumkan penambahan kasus varian Omicron di Indonesia.

Siti Nadia Tarmidzi, selaku juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, mengatakan kasus positif Covid-19 varian Omicron bertambah menjadi 92 kasus pada Selasa (04/01). Dengan demikian, jumlah kasus varian Omicron di Indonesia secara keseluruhan mencapai 254 kasus.

Dari total kasus varian Omicron, menurut Siti Nadia Tarmidzi, sebanyak 239 di antaranya berasal dari pelaku perjalanan internasional atau disebut kasus impor. Adapun 15 kasus berasal dari transmisi lokal.

Dia menambahkan, sebagian besar kasus kondisinya ringan dan tanpa gejala (OTG). “Gejala paling banyak adalah batuk (49%) dan pilek (27%),” imbuhnya sebagaimana dikutip dari laman resmi Kemenkes, Selasa (04/01).

Pada 28 Desember, Kementerian Kesehatan melaporkan temuan kasus pertama transmisi lokal varian Omicron.

Seorang pria asal Kota Medan, Sumatera Utara terkonfirmasi positif varian Omicron pada 26 Desember setelah menjalani tes PCR pada 20 Desember.

“Sebagai tindak lanjut, tentunya yang bersangkutan pada saat ini sedang dalam proses evakuasi untuk melakukan isolasi di rumah sakit pusat infeksi Sulianti Saroso,” kata juru bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmidzi, dalam keterangan pers kepada wartawan, 28 Desember 2021 lalu.

Berdasarkan data dari pemerintah, pria berusia 37 tahun tiba di Jakarta pada 6 Desember dan “sempat mengunjungi salah satu restoran di SCBD”. Pria tersebut dikatakan tidak memiliki gejala dan istrinya dinyatakan negatif Covid-19. Mereka diketahui tidak punya riwayat ke luar negeri dalam beberapa bulan terakhir

“Dinas kesehatan sudah berkoordinasi dengan Dinas Parekraf untuk melakukan tracing di tempat yang bersangkutan datangi di SCBD dan juga di sekitar tempat tinggal yang bersangkutan, serta melakukan tracing terkait dengan kegiatan yang dilakukan bersangkutan selama berada di Jakarta,” tambah Siti.

Total kasus varian Omicron di Indonesia saat ini bertambah menjadi 47 kasus, salah satunya merupakan temuan terbaru transmisi lokal. Sisanya merupakan kasus yang berasal dari luar negeri.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan masyarakat Indonesia agar tidak berlibur ke luar negeri mengingat virus corona varian Omicron terus bertambah di Indonesia.

“Jangan berlibur dulu ke luar negeri kecuali pekerjaan-pekerjaan yang memaksa harus pergi,” kata Luhut dalam keterangan pers Update Penanganan Pandemi Covid-19, Senin (27/12).

Menurut Luhut, hampir seluruh kasus Omicron yang dideteksi adalah pelaku perjalanan luar negeri yang berasal dari berbagai negara.

Keterangan Luhut mengacu pada data Kementerian Kesehatan bahwa jumlah kasus terkonfirmasi positif varian Omicron di Indonesia kini bertambah menjadi 46 kasus sejak pertama kali ditemukan pada 16 Desember hingga Minggu (26/12).

“Berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen oleh Badan Litbangkes, kami kembali mengidentifikasi tambahan kasus Omicron 27 orang. Sebagian besar menjalani karantina di Wisma Atlet dan sebagian lagi di RSPI Sulianti Saroso,” kata Jubir Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmidzi, sebagaimana dilaporkan kantor berita Antara.

Terdeteksi di 89 negara

Varian Omicron sedang menyebar di seluruh dunia dengan tingkat kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kasus-kasus varian baru virus corona yang sangat banyak bermutasi itu telah terlacak di 89 negara dan berlipat ganda setiap 1,5 hingga 3 hari.

Namun, dalam sebuah jumpa pers, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan ada kemungkinan banyak negara yang belum mendeteksinya.

Tedros mengaku prihatin bahwa upaya yang dilakukan untuk membendung varian tersebut belum cukup.

“Tentu sekarang kita telah belajar bahwa kita meremehkan virus ini yang kemudian membahayakan kita. Bahkan jika Omicron tidak menimbulkan penyakit yang parah, banyaknya jumlah kasus bisa kembali membuat kewalahan sistem kesehatan yang tidak siap,” ujarnya.

Penulis

borneo123

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

AdvertisementAdvertisement
AdvertisementAdvertisement